Have a good day.

Siapa yang nggak kenal WordPress? gw pun awalnya tau wordpress itu penyedia layanan blog kayak semacam blogspot gitu, karena dulu waktu masih zaman alay, gw sering banget nemu artikel-artikel yang beragam di domain orang dan dibelakangnya ada .wordpress nya. Jika dibandingkan dengan blogsebelah, yang bisa full custom, kadang ngeliat komposisi warna daripada template-template website tersebut (yang tentunya tergantung pada yang punya website) suka bikin sakit mata. Bisa ngebayangin wallpaper grid foto kucing yang diulang-ulang, latar belakang tulisan warna kuning terang, teks comic sans warna biru tosca? terus ada plugin efek salju turun, custom mouse pointer, pemutar musik dan lain-lain, ala-ala profil friendster jaman dulu. Lain halnya dengan WordPress, yang menurut gw tampilannya lebih rapi dan manajemennya lebih teratur. Pokoknya udah jatuh cinta pada pandangan pertama dengan WordPress ini, ada suatu hal yang tidak bisa terdeskripsikan.

Seiring berkembangnya zaman dan ketatnya persaingan reseller hosting, mempunyai sebuah website pribadi itu sangat mudah dan murah. Biaya pun bervariasi dari seratus sampe tigaratus ribupertahun untuk domain dan hosting, tinggal transfer terus nunggu name servernya resolve, jadi deh website yang siap di oprek-oprek.

Kebetulan gw memilih menggunakan wordpress, cara installnya menggunakan fitur dari Cpanel yang bernama Softaculous, lalu pilih untuk menginstall WordPress, dengan alasan gw udah familiar dengan tampilan Dashboard WordPress terdahulu.

Sekarang WordPress sudah terinstall dan gw mikir gimana caranya untuk migrasibeberapa postingan yang responnya banyak dari para pembaca, supaya rumah baru gw ini nggak sepi-sepi amat. Kalau gw copy-paste, nanti takutnya nggak di approve kalo mau pasang AdSense, karena mereka nggak mau masang iklan di website yang salah satu isinya memuat konten-konten plagiat. Langsung saja!

click to enlarge

Step 1

Masuk ke Dashboard blog WordPress nya kemudian ke Tools->Export. Jangan pilih yang bayar 🙁

Setelah pilih Start, nanti dia akan mengekstrak file .zip, yang apabila di ekstrak kembali akan keluar file .xml. Ukuran dari file .xml ini tergantung dari apa yang ingin kalian export.

Step 2

Masuk ke Dashboard baru WordPress nya kemudian ke Tools->Import. Pilih WordPress Importer, install pluginnya apabila perlu. Kemudian proses import-pun bisa dilakukan dengan sebuah klik saja. Oleh default, batas size maksimum yang diizinkan oleh WordPress adalah dua embe, jadi kalau ukuran file yang kalian download kurang dari dua embe, maka tutorial simple ini sudah selesai dan jadi nggak seru untuk dibahas. Tapi kalau ukurannya lebih dari dua embe….

 

Step 3

Masuk ke account Cpanel lalu pada bagian Software, pilih Multi PHPIni Editor.

Setelah itu masuk lalu pilih domain kalian, dan scroll terus kebawah sampai nemu parameter dibawah ini

Ubah dari default dua embe menjadi sekian embe supaya file xml tadi bisa di upload. Jika nggak nemu optionnya, yang lebih simple bisa masuk ke Cpanel kemudian ke Options->Show Hidden (dot) Files, lalu cari file PHP.ini di root nya. Edit parameter upload_max_filesizemenjadi yang diinginkan. Sebagai contoh gw ubah upload_max_filesizenya jadi 3M, karena memang sesuai keperluan gw import file yang segitu gedenya.

Apabila metode diatas tidak berhasil/tidak bisa dilakukan, gw pernah baca dari beberapa sumber yang kredibel bahwa masih ada cara lain untuk mengatasi limit file size pada WordPress.

  1. .htaccess. Dengan mengedit beberapa string dari .htaccess, konon bisa mengubah limitasi tersebut. Tapi nyatanya nggak berhasil, tuh, karena gw udah nyoba malah justru websitenya nggak bisa dibuka. Entah kenapa, mungkin akibat trik satu ini udah nggak mempan dipake untuk WordPress versi baru, tapi mungkin aja gw salah. Mungkin temen-temen ada yang tau alasannya?
  2. Compressed your .XML like crazy using 7zip. Yeah… metode ini berhasil ngakalin sistem wordpress yang melimit batas maksimal dua embe itu. Dengan konfigurasi yang tepat, file .xml yang punya size dua koma tiga embe (punya gw) menjadi tigaratus kabe saja, dan untungnya WordPress masih mengenal file .gz untuk diupload, meskipun pada halaman upload itu tertulis jelas hanya meminta kita untuk mengupload file .xml thok.Oh,WP you little snake you. Buat yang kepo sama settingan 7zipnya, sekalian gw capture ya. Sedikit catatan, pastikan extension untuk file yang mau di upload adalah .gz ya, nama metode kompresinya Gzip.

Jangan lupa untuk mengembalikan semua parameter yang sudah di edit kembali ke default apabila sudah selesai, karena kadang hal-hal seperti ini diluar ketentuan dari pihak hosting, jadi resiko ditanggung sendiri ya.

Have a good day!